Ramai-ramai berita tentang Zara yang memutuskan melepas hijabnya sangat beresonansi dengan pergulatan internal di dalam batin saya.
Sebagian netizen bilang gak penting harus diposting segala.
Asumsi saya, justru postingan tersebut dibuat karena Zara sadar posisinya sebagai putri dari seorang politisi/publik figur. Berat sekali jadi Zara sampai dia harus memastikan apa yang dia lakukan tidak sampai memberikan dampak buruk terhadap orangtuanya. Postingan itu mengandung disclaimer yang jelas: jangan bawa2 orangtua!
Jika saat ini netizen mencibir bahwa posting hal semacam itu nir-faedah, maka andai postingan itu tidak dibuat apakah Zara dan orangtuanya akan bebas dari cibiran? Tidak juga. Malah, saya berempati dengan Zara. Bagi saya dia terlihat seperti wanita muda yang berani menghadapi konsekuensi.
Berhijab memang berat.
15 tahun lalu saya memulai dengan motivasi yang receh: tidak mau repot bongkar pasang jilbab ketika pelajaran agama, maka sekalian saja pakai terus. Seiring waktu, rupanya beban mengenakan jilbab lebih dari sekedar asumsi kegerahan di siang bolong karena faktanya berjilbab tidak membuat gerah sama sekali.
Justru saya amat terrified dengan reaksi sosial yang begitu sengit terhadap wanita yang melepas hijabnya, lebih daripada wanita yang belum berhijab. Melepas selembar kain yang menutupi rambutmu akan secara instan merubahmu menjadi pendosa kelas berat. Infidel! Menilik beberapa contoh kasus yang terjadi pada publik figure, pendapat tersebut valid adanya.
Kembali ke Zara, dia adalah manusia yang sedang tumbuh. Bukan karena belum dewasa namun karena bertumbuh adalah tugas seumur hidup. Netizen, anda, saya, wajib terus tumbuh. Dan tumbuh kembang selalu berkonsekuensi pada perubahan.
Saya mengagumi kalimat yang Zara tambahkan bahwa kalaupun nanti dia kembali berhijab, itu adalah keputusan yang organik dari hasil pencariannya. Kelak jika benar terjadi, Zara akan kembali memeluk perintah Tuhannya dengan keyakinan yang solid.
Bukankah Ibrahim a.s. juga harus berjibaku dengan percarian sebelum menjadi salah satu hamba kesayangan Tuhan ?
...Dia mengira bulan adalah yang maha kuasa. Pasti sesat kata orang sekarang!
...Bulan berganti matahari, pastilah ini Tuhan. 100% murtad, kalau kata netizen!
Ibrahim mengalami pergolakan yang intens untuk bisa merengkuh hidayah dengan nalar yang terbuka. Bukan dengan dogma dan jumud.
Nalar, saudara-saudara.
Menyitir perintah pertama dalam kitab suci yang adalah Iqro': membaca, jelas sekali ini adalah petunjuk bagi orang-orang yang mau membuka pikiran dan rela menjalani pencarian.
Saya ingin sekali seberani Zara dalam menjalani pencariannya. Tapi saya adalah istri, ibu, anak perempuan.. yang mesti tidak ada sanak yang jadi publik figur, tetap saja sanksi sosial melepas hijab kelewat menakutkan. "habis minal aidzin-an masa langsung bikin huru hara...", batin saya sambil menjejalkan setumpuk jilbab di sesi packing menjelang pulang kampung.
